Tuan Tanah Bagian 4

 Setahun telah berlalu sejak "Tritunggal" itu bersatu. Gedung itu kini bukan lagi beton kosong yang lembap. Andi telah memasang jaringan kabel yang rumit di balik dindingnya, Mad Dog telah melatih sekelompok pemuda jalanan menjadi penjaga yang haus darah, dan di lantai teratas—Lantai 15—Tama Riyadi duduk di singgasananya, mengawasi segalanya melalui deretan monitor CCTV.

Malam itu adalah "Hari Pembukaan". Namun, tidak ada pita merah atau sampanye. Yang ada hanyalah kabar yang beredar di bawah tanah: Ada tempat aman bagi mereka yang tidak punya tempat lagi di dunia.

Hujan turun rintik-rintik, memberikan kesan suram yang sempurna. Di lobi gedung yang remang-remang, Andi berdiri dengan daftar di tangannya. Di belakangnya, Mad Dog bersandar di pilar, matanya memindai setiap orang yang masuk dengan tatapan predator.

Satu per satu, tamu-tamu "terhormat" berdatangan.

Ada Bahar, seorang pembunuh bayaran yang sedang diburu dua polda sekaligus. Ada sekelompok produsen sabu yang laboratoriumnya baru saja digerebek. Ada juga para buronan politik dan perampok bank yang wajahnya terpampang di setiap tiang listrik.

"Nama?" tanya Andi datar kepada seorang pria dengan bekas luka bakar di wajahnya.

"Gito. Polisi nyari gue gara-gara kasus di Medan," jawab pria itu sambil melirik Mad Dog yang sedang memainkan pisau karambit.

Andi mencatat. "Lantai 4, Kamar 402. Sewa bulanan sudah termasuk jatah keamanan. Kalau kau membawa 'masalah' ke dalam gedung ini tanpa melapor, kau yang akan jadi masalah bagi kami. Mengerti?"

Gito mengangguk cepat, merasa terintimidasi oleh suasana dingin di lobi itu.

Di lantai 15, suara interkom berbunyi. "Semua kamar di lantai 2 sampai 6 sudah terisi, Pak Tama," suara Andi terdengar dari speaker.

Tama menyesap kopi hitamnya, matanya terpaku pada layar monitor yang menunjukkan para penjahat itu masuk ke kamar masing-masing seperti tikus yang masuk ke lubang perlindungan.

"Bagus, Andi," jawab Tama pelan. "Bagaimana dengan para 'tamu undangan'?"

"Mereka sudah di koridor lantai 1," jawab Andi.

'Tamu undangan' yang dimaksud Tama adalah tiga orang kepala geng lokal yang selama ini menguasai wilayah sekitar Jatinegara. Mereka datang bukan untuk menyewa kamar, tapi untuk menuntut jatah preman karena Tama berani membuka bisnis di wilayah mereka.

Pintu lobi terbuka kasar. Tiga pria bertubuh besar masuk dengan angkuh, diikuti belasan anak buah bersenjata parang.

"Mana si Tama?" teriak pemimpin mereka, seorang pria paruh baya bernama Suro. "Dia pikir dia siapa? Bikin kerajaan di sini nggak pakai izin!"

Andi tidak bergerak dari mejanya. Mad Dog perlahan berdiri tegak, lehernya berbunyi krek saat ia meregangkan otot.

Suara Tama terdengar melalui speaker gedung, menggema di seluruh lobi. "Suro... kau terlalu berisik. Aku sedang mencoba membangun sesuatu yang beradab di sini."

"Beradab matamu! Bayar atau gedung ini gue bakar!" balas Suro.

"Andi, tutup pintunya," perintah Tama dingin.

Brak!

Pintu baja berat di lobi tertutup otomatis dengan suara dentuman keras. Suro dan anak buahnya terlonjak. Mereka terjebak.

"Mad Dog," suara Tama terdengar lagi, kali ini lebih santai. "Berikan mereka 'diskon' pembukaan."

Mad Dog tidak butuh perintah kedua. Ia melesat seperti bayangan hitam. Dalam satu gerakan, ia sudah berada di depan Suro. Parang yang diayunkan anak buah Suro ditangkapnya dengan tangan kosong—bukan di bagian tajam, tapi dengan mencengkeram pergelangan tangan si penyerang hingga tulangnya remuk.

Lobi itu berubah menjadi pembantaian yang artistik. Mad Dog bergerak di antara belasan orang itu seperti penari kematian. Ia tidak menggunakan senjata api. Ia menggunakan tangan, kaki, dan apa saja yang ada di sana untuk mematahkan semangat mereka.

Andi tetap tenang mencatat di bukunya, bahkan ketika percikan darah mengenai ujung sepatunya.

Hanya butuh tiga menit bagi Mad Dog untuk menyisakan Suro seorang diri yang gemetar di tengah tumpukan anak buahnya yang mengerang kesakitan.

"Naikkan dia ke atas," perintah Tama.

Suro diseret ke Lantai 15. Di sana, ia dipaksa berlutut di depan meja kerja Tama. Tama tidak memarahi Suro. Ia justru memberikan Suro sebuah monitor kecil.

"Lihat ini, Suro," kata Tama sambil menunjuk layar CCTV yang menunjukkan lobi yang kini bersih kembali dalam waktu singkat oleh petugas pembersih yang sudah disiapkan Andi. "Ini adalah efisiensi. Kau dan gengmu adalah masa lalu. Kalian berisik, kotor, dan mudah diprediksi."

Tama mengambil sepucuk pistol dari laci mejanya.

"Di gedung ini, hanya ada satu aturan: Aku adalah hukum. Kau bisa memilih. Keluar dari sini sebagai mayat, atau tinggal di sini sebagai anjingku yang menjaga gerbang luar."

Suro, yang baru saja melihat bagaimana satu orang (Mad Dog) menghabisi seluruh timnya, tidak punya pilihan lain. Ia mencium tangan Tama.

Malam itu, berita menyebar lebih cepat dari api. Tama Riyadi bukan lagi sekadar preman. Dia adalah pemilik "Apartemen Neraka". Sebuah tempat di mana hukum negara berhenti di depan pintu gerbangnya, dan hukum Tama dimulai.

Gedung itu telah hidup. Dan ia lapar akan lebih banyak darah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tuan Tanah Bagian 3

Tuan Tanah 1