Tuan Tanah Bagian 3

 

Kalkulasi di Atas Darah

Jakarta, satu bulan setelah Tama menguasai gedung.

Sebuah ruko perjudian ilegal di kawasan Glodok. Asap rokok begitu tebal hingga perih di mata. Di sudut ruangan yang bising oleh suara mesin slot dan teriakan pemabuk, seorang pemuda berkacamata sedang memijat pelipisnya yang berdenyut.

Itu Andi. Di depannya berserakan buku besar keuangan yang penuh coretan merah.

"Goblok lu, Andi!" bentak seorang pria gemuk berkeringat—Bos Darto, pemilik tempat itu. "Kenapa setoran minggu ini kurang lagi? Lu nyolong ya?"

Andi menghela napas, berusaha tetap tenang. "Bos, sudah saya bilang. Polisi minta naik setoran 20%. Preman pasar minta naik 10%. Sementara mesin di meja 4 rusak, omzet turun. Kalau Bos terus ambil uang kas buat main perempuan, kita bangkrut minggu depan."

"Alasan!" Darto menampar tumpukan buku itu hingga jatuh. "Gue nggak mau tahu itung-itungan lu yang ribet. Cari duitnya, atau tangan lu gue giling di mesin itu!"

Andi menunduk memunguti buku-bukunya. Ia bukan penakut, ia hanya pragmatis. Ia tahu Darto adalah kapal karam yang perlahan tenggelam karena kebodohannya sendiri. Andi butuh sekoci, tapi ia terjebak utang budi keluarga yang tak kunjung lunas.

Kring.

Lonceng pintu ruko berbunyi pelan, namun efeknya instan. Suasana bising mendadak senyap.

Dua orang masuk. Yang satu kecil, berambut gondrong dengan tatapan kosong yang mengerikan—Mad Dog. Yang satu lagi berpakaian rapi, tenang, dan memancarkan aura dominasi—Tama Riyadi.

Darto gemetar. Ia tahu siapa mereka. Kabar tentang "hantu" yang mengambil alih gedung apartemen di Jatinegara sudah menyebar.

"T-Tama..." gagap Darto. "Ada angin apa? Kita... kita nggak ada masalah kan?"

Tama tidak menjawab Darto. Matanya langsung tertuju pada Andi yang masih berlutut membereskan kertas. Tama melihat cara Andi menyusun kembali halaman-halaman itu: rapi, urut, sistematis, meski dalam tekanan.

"Menyedihkan," gumam Tama.

"Iya, maaf Tam, ini anak buah emang go..." Darto mencoba bicara.

"Bukan dia," potong Tama. "Kau."

Tama melangkah maju. "Kau punya aset berharga di sini—seorang akuntan yang bisa menjaga bisnismu tetap hidup—tapi kau memperlakukannya seperti kacung."

Mad Dog bergerak. Tanpa aba-aba, ia melompat ke atas meja judi, menendang wajah pengawal Darto hingga giginya rontok, lalu dengan santai menodongkan pisau lipat ke leher Darto.

Ruangan itu membeku.

Tama berjongkok di depan Andi. Ia mengambil salah satu lembar kertas berisi neraca keuangan yang rumit.

"Rapi," komentar Tama. "Efisien. Kau memotong biaya operasional sampah, mengalokasikan dana suap dengan presisi. Tapi bosmu terlalu bodoh untuk memahaminya."

Andi membetulkan letak kacamatanya, menatap Tama. Untuk pertama kalinya, ia merasa ada seseorang yang mengerti bahasanya.

"Siapa namamu?" tanya Tama.

"Andi."

"Dengar, Andi. Aku punya gedung. Besar. 15 lantai, ratusan kamar," Tama berbicara seperti sedang presentasi bisnis. "Aku punya otot—" ia menunjuk Mad Dog, "—dan aku punya visi. Tapi aku butuh otak. Aku butuh seseorang yang bisa mengatur aliran uang sewa, logistik narkoba, dan memastikan setiap 'penghuni' membayar tepat waktu."

Tama menyodorkan tangan.

"Ikut aku. Kau tidak akan lagi mengurus recehan judi. Kau akan mengelola sebuah kerajaan."

"Dan Darto?" tanya Andi pelan.

Tama berdiri, menoleh sekilas ke arah Darto yang merengek di bawah pisau Mad Dog.

"Orang bodoh tidak punya tempat di masa depan," jawab Tama dingin. "Mad Dog, bersihkan."

Sret.

Andi tidak memalingkan wajah saat Darto dieksekusi. Ia hanya menatap darah yang mengalir di lantai ubin, merembes mendekati sepatunya. Logikanya bekerja cepat. Di sini, ia akan mati konyol. Di sana, bersama Tama, ia bisa membangun sesuatu yang nyata.

Andi berdiri, membersihkan debu di celananya, dan menjabat tangan Tama.

"Gedung itu butuh renovasi sistem listrik dan air kalau mau dijadikan lab narkoba," kata Andi, suaranya datar namun penuh rencana. "Dan kita butuh sistem CCTV di setiap koridor."

Tama tersenyum lebar. Ia telah menemukan kepingan terakhirnya.

"Siapkan anggarannya, Andi. Uang bukan masalah."

Malam itu, Andi meninggalkan ruko Glodok tanpa menoleh ke belakang. Di dalam mobil sedan hitam yang membawanya pergi, ia melihat gedung apartemen tua itu dari kejauhan. Gelap dan menyeramkan.

Tapi di mata Andi, itu bukan gedung hantu. Itu adalah sebuah sistem yang menunggu untuk dioptimalkan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tuan Tanah Bagian 4

Tuan Tanah 1