Postingan

Tuan Tanah Bagian 4

 Setahun telah berlalu sejak "Tritunggal" itu bersatu. Gedung itu kini bukan lagi beton kosong yang lembap. Andi telah memasang jaringan kabel yang rumit di balik dindingnya, Mad Dog telah melatih sekelompok pemuda jalanan menjadi penjaga yang haus darah, dan di lantai teratas—Lantai 15—Tama Riyadi duduk di singgasananya, mengawasi segalanya melalui deretan monitor CCTV. Malam itu adalah "Hari Pembukaan". Namun, tidak ada pita merah atau sampanye. Yang ada hanyalah kabar yang beredar di bawah tanah: Ada tempat aman bagi mereka yang tidak punya tempat lagi di dunia. Hujan turun rintik-rintik, memberikan kesan suram yang sempurna. Di lobi gedung yang remang-remang, Andi berdiri dengan daftar di tangannya. Di belakangnya, Mad Dog bersandar di pilar, matanya memindai setiap orang yang masuk dengan tatapan predator. Satu per satu, tamu-tamu "terhormat" berdatangan. Ada Bahar , seorang pembunuh bayaran yang sedang diburu dua polda sekaligus. Ada sekelompok produ...

Tuan Tanah Bagian 3

  Kalkulasi di Atas Darah Jakarta, satu bulan setelah Tama menguasai gedung. Sebuah ruko perjudian ilegal di kawasan Glodok. Asap rokok begitu tebal hingga perih di mata. Di sudut ruangan yang bising oleh suara mesin slot dan teriakan pemabuk, seorang pemuda berkacamata sedang memijat pelipisnya yang berdenyut. Itu Andi . Di depannya berserakan buku besar keuangan yang penuh coretan merah. "Goblok lu, Andi!" bentak seorang pria gemuk berkeringat—Bos Darto, pemilik tempat itu. "Kenapa setoran minggu ini kurang lagi? Lu nyolong ya?" Andi menghela napas, berusaha tetap tenang. "Bos, sudah saya bilang. Polisi minta naik setoran 20%. Preman pasar minta naik 10%. Sementara mesin di meja 4 rusak, omzet turun. Kalau Bos terus ambil uang kas buat main perempuan, kita bangkrut minggu depan." "Alasan!" Darto menampar tumpukan buku itu hingga jatuh. "Gue nggak mau tahu itung-itungan lu yang ribet. Cari duitnya, atau tangan lu gue giling di mesin itu!...

Tuan Tanah Bagian 2

  Anjing Gila di Pelabuhan Tikus Tanjung Priok, dua minggu setelah kematian Kubil. Udara di gudang pelelangan ikan itu terasa berat, campuran aroma garam, solar, dan keringat ratusan laki-laki yang berteriak histeris. Di tengah lingkaran manusia itu, sebuah pertarungan tanpa aturan sedang berlangsung. Tidak ada ronde, tidak ada wasit. Hanya ada uang taruhan yang berpindah tangan saat salah satu petarung berhenti bernapas. Tama berdiri di balkon lantai dua gudang itu, jauh dari kerumunan yang berdesakan. Ia mengenakan kemeja putih yang kontras dengan lingkungan kumuh di bawahnya. Matanya terfokus pada satu sosok di tengah arena. Seorang pria bertubuh kecil. Rambutnya gondrong berantakan, kulitnya sawo matang terbakar matahari. Ia bertelanjang dada, memperlihatkan otot-otot kawat yang padat. Lawannya adalah seorang kuli pelabuhan bertubuh raksasa, mungkin beratnya dua kali lipat si pria kecil. "Habisi dia, Gajah!" teriak penonton. Si Raksasa mengayunkan tinju sebesar martil. Si...

Tuan Tanah 1

  Beton dan Ambisi Jakarta, 1998. Kota ini sedang terbakar, namun di sudut-sudut terkumuh Jatinegara, bisnis tetap berjalan seperti biasa. Hujan deras mengguyur aspal yang retak, menyamarkan bau amis darah yang baru saja tumpah. Di sebuah warung tenda yang sepi, seorang pemuda duduk sendirian. Ia tidak terlihat seperti petarung bertubuh besar, juga bukan tipe yang suka berteriak mengancam. Ia tenang, rapi, dan matanya setajam silet. Namanya Tama Riyadi . Di hadapannya, semangkuk mi instan mengepulkan uap panas. Ia menyeruput kuahnya pelan, seolah tidak peduli bahwa lima meter darinya, dua orang pria sedang mengerang kesakitan dengan lutut hancur—hasil karyanya beberapa menit yang lalu. "Kau gila, Tam," suara serak terdengar dari balik tirai tenda. Itu Bang Kubil , bos kecil yang menguasai tiga blok ruko di wilayah itu. Kubil keluar sambil menyeka keringat dingin, menatap dua anak buah saingan yang kini tak berdaya. "Ini wilayahnya Si Gila Gonzo. Kalau dia tahu kita habi...